Belajar Indonesia

IBU


ibu

“Kasih Ibu kepada beta, tak terhingga sepanjang masa. Hanya memberi , tak harap kembali. Bagai sang surya menyinari dunia”. Kadang-kadang aku melupakan syair lagu itu, syair yang selalu dinyanyikan saat aku masih anak-anak. Syair yang mengingatkan seberapa besar kasih sayang Ibu kepadaku. Ketahuilah Ibu seberapa sering aku melupakan syair lagu itu, namun tetap saja aku tidak akan bisa melupakan melodinya. Alunan melodi yang senantiasa mengantarkanku kepadamu.

            Sebelum aku terbentuk janin, bahkan sebelum engkau (Ibu) dan Ayah dipertemukan. Engkau selalu mengharapkan kehadiranku. Bahkan menyayangiku melebihi engkau menyayangi dirimu sendiri. Engkau menata masa depanmu sedemikian indahnya hanya untukku. Engkau pilihkan sosok Ayah sempurna untuk menjadi imam bagimu, dan untuk anak-anakmu (Aku).

            Tugasmu begitu berat, namun begitu ikhlas kau menjalaninya. Semua pengorbanan yang engkau lakukan untukku itu semua semata-mata karena engkau mencintaiku. Ayahpun tidak bisa menggantikan sosokmu. Engkau jauh 3 kali lebih mulia dibanding Ayah. Sebagaimana saat Rasulullah ditanya oleh sahabatnya :

            Dari Abu Hurairah radhiyallaahu ‘anhu, beliau berkata, “Seseorang datang kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam dan berkata, ‘Wahai Rasulullah, kepada siapakah aku harus berbakti pertama kali?’ Nabi shalallaahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Ibumu!’ Dan orang tersebut kembali bertanya, ‘Kemudian siapa lagi?’ Nabi shalallaahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Ibumu!’ Orang tersebut bertanya kembali, ‘Kemudian siapa lagi?’ Beliau menjawab, ‘Ibumu.’ Orang tersebut bertanya kembali, ‘Kemudian siapa lagi,’ Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Kemudian ayahmu.’” (HR. Bukhari no. 5971 dan Muslim no. 2548)

                 Siapakah yang mencintaiku dan akan mencintaiku selamanya dengan cinta yang tidak mungkin lenyap oleh kesulitan, penderitaan dan kejahatan yang kuperbuat? Orang itu adalah kau, Ibuku. Maafkan aku yang sekarang beranjak dewasa dan tidak pernah ada waktu luang bersamamu. Setiap kali aku berpamitan untuk keluar rumah, kau selalu saja memarahiku. Aku tau engkau tidak ingin aku meninggalkanmu sendiri dirumah. Ya aku mulai sibuk dengan kehidupanku yang sekarang, tanpa mengetahui bahwa usiamu semakin lama akan semakin tua.

                Setiap kali aku didekatmu dan kalimat yang selalu kau ucap adalah

“Jangan seperti ini lin.. ”,

“Jangan nakal…”,

“Jangan mudah percaya orang, hati-hati dalam memilih teman”,

“Lihat dia! Jagalah dirimu saat diluar rumah”,

                Dan saat aku bermalas-malasan pun kau masih saja memarahiku

“Ayo.. Jangan malas, menuruti malas tidak akan ada habisnya”,

“Kamu sudah besar, mau jadi apa nanti!”,

“Hei, kamu perempuan! Suatu saat akan jadi ibu, bagaimana suamimu dan calon mertuamu jika sikapmu seperti ini? ”,

                Dan hal terberat yang akan engkau alami saat aku beranjak dewasa yaitu melepaskanku demi suamiku. Melihatku dipinang oleh seorang pria yang akan membawaku pergi dari rumahmu, rumah kita. Bahkan sebelum aku dapat membalas semua kasih sayangmu, engkau pun masih saja rela melepaskanku agar aku bahagia.

                Aku tahu bu, setiap kalimat yang engkau ucapkan itu semua memiliki makna, memiliki arti dan memiliki tujuan yang baik untuk kehidupanku. Segala bentuk kasih sayangmu selalu engkau alirkan untukku walaupun aku sering berbuat kesalahan hingga membuatmu menangis dimalam hari. Membuatmu merasa gagal menjadi seorang ibu. Membuatmu merasa gagal mendidik anak yang sangat engkau sayangi. Aku hanya anak nakal yang dari kecil hingga besar selalu menyusahkanmu, dan akan selalu menyusahkanmu tanpa bisa membalas semua kebaikanmu. Terimakasih untuk semua kasih sayangmu kepadaku Ibu..

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s