Belajar Indonesia

Cerpen Ketika Aku Galau


Kita bahas sedikit tentang pengertian dan ciri-ciri cerpen ya.. Biar makin paham nih sama yang dimaksut apa itu cerpen 🙂 😀

Pengertian

Cerpen merupakan karangan fiktif yang berisi sebagian kehidupan seseorang atau kehidupan yang diceritakan secara ringkas yang berfokus pada suatu tokoh.

Ciri-ciri
  1. Bersifat fiktif
  2. Panjang cerpen kurangdari 10.000 kata
  3. Habis dibaca dalam sekali duduk
  4. Memiliki kesan tunggal (aspek kehidupan)
  5. Bersifat padu,padat dan intensif
  6. Terdapat konflik tetapi tidak sampai menimbilkan perubahan nasib pelaku utama
  7. Hanya terdapat satu alur saja
  8. Perwatakan/penokohan dilukiskan secara singkat
Unsur intrinsik dan penjelasan
  1. Alur
    Rangkaian peristiwa yang membentuk sebuah cerita
    Bagian-bagian alur:
    a. Tahap penyituasian atau pengantar/pengenalan
    Tahap pembukaan cerita atau pemberian informasi awal, terutama berfungsi untuk melandasi cerita yang dikisahkan pada tahap berikutnya.
    b. Tahap pemunculan konflik
    Tahap awal munculnya konflik. Konflik dapat berkembang pada tahap berikutnya . Peristiwa-peristiwa yang menjadi inti cerita semakin mencengangkan dan menegangan.
    c. Tahap klimaks
    Konflik-konflik yang terjadi atau ditimpakan kepada para tokoh cerita mencapai titik intensitas puncak yang biasanya di alami oleh tokoh-tokoh utama.
    d. Tahap peleraian
    Penyelesaian pada klimaks , ketegangan di kendurkan , konflik-konflik tambahan di beri jalan keluar, kemudian cerita di akhiri, disesuaikan dengan tahap akhir di atas.
    e. Tahap penyelesaian
    Konflik sdah diatasi/diselesaikan oleh tokoh. Cerita dapatdi akhiri dengan gembira ata sedih.
  2. Tokoh
    Tokoh adalah pelaku pada sebuah cerita. Tiap-tiap tokoh biasanya memiliki watak , sikap, sifat dan kondisi fisik yang disebut dengan perwatakan/karakter. Dalam cerita terdapat tokoh protagonis (tokoh utama), antagonis (lawan tokoh protagonis) dan tokoh figuran / tokoh pendukung cerita.
  3. Penokohan (perwatakan/karakterisasi) Pemberian sifat pada pelaku-pelaku cerita. Sifat yang diberikan akan tercermin pada pikiran, ucapan, dan pandangan tokoh terhadap sesuatu.
    1. Latar : Latar merupakan keterangan yang menyebutkan waktu, ruang dan suasana terjadinya peristiwa pada sebuah karya sastra. Jenis-jenis latar :
      1. Latar waktu : Keterangan tentang kapan peristiwa itu terjadi . Misal, pagi,siang, sore, malam.
      2. Latar tempat : Keterangan tempat peristiwa itu terjadi. Misal di rumah, di sekolah.
      3.  Latar suasana : Latar suasana menggambarkan peristiwa yang terjadi. Misal, gembira, sedih romantis.
  4. Sudut pandang
    Posisi pengarang pada sebuah cerita . Terdiri :

    1. Sudut pandang orang pertama
      Menggunakan kata ganti “aku” sebagai pelaku utamanya.
    2. Sudut pandang orang ke dua
      Menggunakan kata ganti “kamu” sebagai pelaku utamanya.
    3. Sudut pandang orang ke tiga
      Menggunakan kata ganti “ia, dia, mereka” sebagai pelaku utamanya.
    4. Sudut pandang campuran
      Menggunakan kata ganti “aku” dan “kamu” sebagai pelaku utamanya.
  5. Tema
    Gagasan utama/pikiran pokok.
    Tema merupakan pokok pembicaraan yang mendasari cerita . Tema bersifat menjiwai keseluruhan cerita dan mempunyai generalisasi yang umum, oleh karena itu, untuk menemukan tema sebuah karya fiksi harus disimpulkan dari seluruh cerita, tak hanya bagian-bagian tertentu dari cerita. Tema sebagai salah satu unsur karya fiksi sangat berkaitan erat dengan unsur-unsur yang lainnya.
  6. Amanat : Pesan yang ingin disampaikan pengarang melalui karyanya kepada pembaca / pendengar. Pesan bisa berupa harapan, nasehat, kritik dan sebagainya.

Hei reader.. Apa kabar kalian ? Okey ini pos pertama saya ya, buat sedikit ngisi waktu luang diantara jadwal yang sangat padat. Dan guru Bahasa Indonesia disekolahku meminta untuk membuat cerpen. Ya.. meskipun tidak terlalu bagus dan menarik, setidaknya cerpen ini menambah nilai rapor saya. Okey silahkan baca deh 😉

Ketika Aku GalauDeloizsad05

“Kau mau lompat? Lompat aja! Sebelum kamu ketahuan banyak orang!” Dia menyuruhku dari tadi. Entahlah dia siapa. Seorang anak laki-laki seumurku. Menggunakan jubah cokelat, celana hitam serta kemeja putih. Kakinya dibalut sepatu panthofel hitam. Ia duduk di pagar pembatas tak jauh dariku berdiri di bibir gedung lantai 40 ini.

“Kenapa…” Aku berkata lirih namun suaraku terhenti tatkala lelaki itu menunjuk kebawah. “Ayo! Lompatlah! Akhiri kegalauanmu segera!”

“Kenapa kau memintaku untuk lompat? Siapa kamu?!” Aku penasaran.

“Kenapa kau ingin tahu, nona?” Ia membalikkan penasaranku. Senyum ganjilnya menghiasi pikiranku sedari tadi.

“Kau selalu menyuruhku untuk lompat, bahkan aku tak tahu kau siapa dan datang dari mana!” Suaraku meninggi. Namun ia tak gemetaran ataupun sekadar menggeser badannya sedikit menjauhiku, nyatanya tidak!

“Aku sedang galau!” Aku memandang langit, aku membuka pembicaraan seolah aku bisa mendapat perhatiannya. “Oya? dan karena itu kau ingin mengakhiri semuanya?” Ia mulai menelusuri pikiranku.

“Sepertinya. Memangnya kenapa?” Aku mencoba memancingnya. “Kau tau? Di bawah sana itu bukan kasur. Itu aspal… itu kendaraan yang sedang berlalu lalang. Kau akan mati!”

“Bukankah itu tujuanku ya?”

“Agar galaumu menghilang?”

“Daripada aku tersiksa?!”

“Sesederhana itu?”

“Kau terlalu banyak tau! Memangnya kau siapa?!”

“Jika aku beritahu kau mau apa?”

“Diam! Kau begitu berisik!” Aku meneriakinya marah. Kesalku memuncak seiring senyum ganjil laki-laki itu.

“Lompatlah segera! Kau tau… tubuh molekmu itu akan meluncur bebas. Jika ingin segera hancur tak dikenali, condongkan badanmu lurus vertikal dengan kepala di bawah duluan, dan… buuzzz… kepalamu telak menghantam benda keras apapun di bawah sana! matamu keluar, kepalamu hancur berantakan… wow…!!!”

“CUKUP!!!” Aku berteriak semakin kesal. “Ada apa denganmu?!”

“Kau yang sebenarnya ada apa?” Ia tetap terlihat santai. “Bocah sepertimu mudah rapuh!”

“Bukan urusanmu, monyong!!! Enyahlah kau dari hadapanku!”

“Apa hakmu mengusirku?” Aku akui ia mulai mengusik kemarahanku. “Aku kan tidak mengganggu aktifitasmu.”

“Tak mengganggu? Kau buta atau tolol sih? Jelas-jelas kau tak diam, kau banyak  mengusikku sedari tadi!”

Lelaki menjengkelkan itu menggaruk kepalanya. Ia tersenyum sambil memandang kejauhan. Lalu melirikku dengan senyumannya yang menggoda, kupikir-pikir ia lumayan tampan. Hah! apa sih yang aku pikirkan? Tetap saja dia menjengkelkan!

“Kau sebenarnya siapa? Dan kau datang dari mana?!” Aku mencoba tenang. Aku atur emosiku.

“Kau tak ingin lompat? Kau tak lupa kan tujuan awalmu?” Ia tertawa. Benar-benar orang ini. Aku tanya apa ia jawab apa. “Sudah aku katakan tadi kan? Jika aku beritahu kau mau apa?”

Aku akhirnya memilih diam. Kuanggap lelaki yang berdiri tak jauh dariku ini hanyalah lalat saja. Pikiranku menerawang jauh di bawah sana. Jika aku lompat sekarang, bebanku akan hilang. Ahh anginnya deras sekali menerpa tubuhku.

“Sudah ingin lompat?” Ia kembali bersuara, memecah lamunku. Aku meliriknya kesal, saat kutorehkan wajahku, ia tiba-tiba sudah semakin dekat denganku. “Hei… nona. Kau tau? Di bawah sana itu bukan kasur. Tidak empuk!”

“Aku tahu!”

“Jika kamu tahu kenapa kau tak urungkan niatmu?”

“Kau memintaku untuk lompat bukan, kenapa sekarang kau malah membujukku untuk menghentikan keinginanku?!”

“Aku tidak menyuruhmu untuk lompat, dan aku juga tidak pula untuk memintamu menghentikan keinginanmu untuk melompat.”

“Lalu kau mau apa?!!!”

Aku mulai tak sabar, mataku melototinya.

“Hanya gara-gara galau, kau ingin mengakhiri hidupmu. Apa kau tak sayang dengan kehidupanmu? Apa hanya gara-gara lelaki, kau rela menyudahi seluruh aktifitas kehidupanmu? Kau bodoh, nona. Hahahahaha!” Sekali lagi ia membangunkan emosiku. “Kau tak hanya kehilangan kesempatanmu untuk mengatur kebahagiaanmu, kau juga akan kehilangan orang yang disiapkan Tuhan untuk menggantikan laki-laki yang telah menyakitimu. Apa kau tak pikirkan hal itu?” Ia memandangku dengan tenang. “Ahh.. iya! Aku ingat, kau kan sedang galau. Mana mungkin kau akan berpikir sesehat itu? Hahahaha!”

“Kau sudah selesai?” Tanyaku kesal. Ia malah menanggapi kekesalanku dengan segurat senyuman yang manis. Ahh aku membenci hal itu. “Kau bukan saja kehilangan itu semua, nona. Kau juga kehilangan kesempatan untuk menghirup kebebasan di dunia ini. Kau tahu? Berapa orang yang akan menangisimu ketika kau memilih jalan ini? Apa kau sudah menghubungi orang tuamu, sahabat-sahabatmu, atau teman-temanmu? Kau tak pamit?”

“Dengarkan aku! Untuk apa aku harus meminta izin mereka, bodoh! Yang ada aku bakalan dicaci, dimarahi dan bakalan dicegah!”

“Itu tandanya mereka menyayangimu. Lalu jika kau tahu itu kenapa kau ingin melakukan hal ini?”

“Bukan urusanmu!!!!”

“Memang sih bukan urusanku, tapi cobalah untuk berpikir. Apa setelah kau mati nanti urusanmu di dunia ini bakalan berakhir?”

“Iya!”

“Lalu bagaimana urusanmu dengan Tuhanmu?”

“Tuhanku? Apa Dia peduli denganku? Dia tak membantuku di saat laki-laki busuk itu menyakitiku!!!”

“Ia membantumu. Kau saja tak merasakannya.”

“Kau sudah cukup mengoceh?!”

“Kau memintaku diam?”

“Jelas iya!”

“Lalu kenapa kau menanggapi setiap ocehanku jika kau ingin aku diam?”

“Kau…” Aku tak tahu harus berkata apa lagi. Tiba-tiba niatku untuk mengakhiri hidupku meluap sudah.

“Hidup itu indah nona. Sudahlah, tata kembali hatimu. Balaslah perlakuan laki-laki yang menyakitimu dengan kesuksesanmu. Semua masalah jika diakhiri dengan melompat seperti ini adalah cara pengecut dan tak terhormat. Setiap kehidupanmu, langkahmu dan caramu berpikir kelak dimintai pertanggungjawaban. Kau hanya menyewa apa yang ada di hidupmu sekarang. Tubuhmu itu bukan seluruhnya mutlak milikmu, tapi kau menyewanya dari Tuhan. Masa kau ingin menghancurkan apa yang bukan menjadi hakmu seutuhnya?” Tiba-tiba jubah lelaki di dekatku ini membesar, menutupi sekujur tubuhnya. Kemudian sepasang sayap panjang dan besar muncul dari punggungnya. “Jangan kau bebani aku gara-gara kebodohanmu dan otak ciutmu itu nona. Tugasku sudah banyak. Setiap waktu mencabik jiwa kerdil sepertimu hanya gara-gara galau!” Sayapnya mengembang, ia lalu melayang dan tersenyum padaku. tiba-tiba tangan kirinya keluar dan munculah sabit raksasa digenggaman tangannya. “Kau ingin tau siapa aku? Harusnya kau sudah tau siapa aku.”

Aku terpana memandangnya. Apa dia malaikat maut? Jika iya, pantas aku tak mampu berkata apa-apa lagi. Amarahku menghilang tak membekas. Jadi lelaki yang mengusikku sedari tadi. “Sudahlah nona. Galau itu tak perlu. Jika kau ingin mati. Matilah secara terhormat. “ Ia memasang topeng tengkoraknya dan kemudian melayang ke angkasa, meninggalkanku yang kini terduduk lemas di bibir gedung.

“Kau mau lompat? Lompat aja! Sebelum kamu ketahuan banyak orang!” Dia menyuruhku dari tadi. Entahlah dia siapa. Seorang anak laki-laki seumurku. Menggunakan jubah cokelat, celana hitam serta kemeja putih. Kakinya dibalut sepatu panthofel hitam. Ia duduk di pagar pembatas tak jauh dariku berdiri di bibir gedung lantai 40 ini.

“Kenapa…” Aku berkata lirih namun suaraku terhenti tatkala lelaki itu menunjuk kebawah. “Ayo! Lompatlah! Akhiri kegalauanmu segera!”

“Kenapa kau memintaku untuk lompat? Siapa kamu?!” Aku penasaran.

“Kenapa kau ingin tahu, nona?” Ia membalikkan penasaranku. Senyum ganjilnya menghiasi pikiranku sedari tadi.

“Kau selalu menyuruhku untuk lompat, bahkan aku tak tahu kau siapa dan datang dari mana!” Suaraku meninggi. Namun ia tak gemetaran ataupun sekadar menggeser badannya sedikit menjauhiku, nyatanya tidak!

“Aku sedang galau!” Aku memandang langit, aku membuka pembicaraan seolah aku bisa mendapat perhatiannya. “Oya? dan karena itu kau ingin mengakhiri semuanya?” Ia mulai menelusuri pikiranku.

“Sepertinya. Memangnya kenapa?” Aku mencoba memancingnya. “Kau tau? Di bawah sana itu bukan kasur. Itu aspal… itu kendaraan yang sedang berlalu lalang. Kau akan mati!”

“Bukankah itu tujuanku ya?”

“Agar galaumu menghilang?”

“Daripada aku tersiksa?!”

“Sesederhana itu?”

“Kau terlalu banyak tau! Memangnya kau siapa?!”

“Jika aku beritahu kau mau apa?”

“Diam! Kau begitu berisik!” Aku meneriakinya marah. Kesalku memuncak seiring senyum ganjil laki-laki itu.

“Lompatlah segera! Kau tau… tubuh molekmu itu akan meluncur bebas. Jika ingin segera hancur tak dikenali, condongkan badanmu lurus vertikal dengan kepala di bawah duluan, dan… buuzzz… kepalamu telak menghantam benda keras apapun di bawah sana! matamu keluar, kepalamu hancur berantakan… wow…!!!”

“CUKUP!!!” Aku berteriak semakin kesal. “Ada apa denganmu?!”

“Kau yang sebenarnya ada apa?” Ia tetap terlihat santai. “Bocah sepertimu mudah rapuh!”

“Bukan urusanmu, monyong!!! Enyahlah kau dari hadapanku!”

“Apa hakmu mengusirku?” Aku akui ia mulai mengusik kemarahanku. “Aku kan tidak mengganggu aktifitasmu.”

“Tak mengganggu? Kau buta atau tolol sih? Jelas-jelas kau tak diam, kau banyak  mengusikku sedari tadi!”

Lelaki menjengkelkan itu menggaruk kepalanya. Ia tersenyum sambil memandang kejauhan. Lalu melirikku dengan senyumannya yang menggoda, kupikir-pikir ia lumayan tampan. Hah! apa sih yang aku pikirkan? Tetap saja dia menjengkelkan!

“Kau sebenarnya siapa? Dan kau datang dari mana?!” Aku mencoba tenang. Aku atur emosiku.

“Kau tak ingin lompat? Kau tak lupa kan tujuan awalmu?” Ia tertawa. Benar-benar orang ini. Aku tanya apa ia jawab apa. “Sudah aku katakan tadi kan? Jika aku beritahu kau mau apa?”

Aku akhirnya memilih diam. Kuanggap lelaki yang berdiri tak jauh dariku ini hanyalah lalat saja. Pikiranku menerawang jauh di bawah sana. Jika aku lompat sekarang, bebanku akan hilang. Ahh anginnya deras sekali menerpa tubuhku.

“Sudah ingin lompat?” Ia kembali bersuara, memecah lamunku. Aku meliriknya kesal, saat kutorehkan wajahk

“Aku tahu!”

“Jika kamu tahu kenapa kau tak urungkan niatmu?”

“Kau memintaku untuk lompat bukan, kenapa sekarang kau malah membujukku untuk menghentikan keinginanku?!”

“Aku tidak menyuruhmu untuk lompat, dan aku juga tidak pula untuk memintamu menghentikan keinginanmu untuk melompat.”

“Lalu kau mau apa?!!!”

u, ia tiba-tiba sudah semakin dekat denganku. “Hei… nona. Kau tau? Di bawah sana itu bukan kasur. Tidak empuk!”

Aku mulai tak sabar, mataku melototinya.

“Hanya gara-gara galau, kau ingin mengakhiri hidupmu. Apa kau tak sayang dengan kehidupanmu? Apa hanya gara-gara lelaki, kau rela menyudahi seluruh aktifitas kehidupanmu? Kau bodoh, nona. Hahahahaha!” Sekali lagi ia membangunkan emosiku. “Kau tak hanya kehilangan kesempatanmu untuk mengatur kebahagiaanmu, kau juga akan kehilangan orang yang disiapkan Tuhan untuk menggantikan laki-laki yang telah menyakitimu. Apa kau tak pikirkan hal itu?” Ia memandangku dengan tenang. “Ahh.. iya! Aku ingat, kau kan sedang galau. Mana mungkin kau akan berpikir sesehat itu? Hahahaha!”

“Kau sudah selesai?” Tanyaku kesal. Ia malah menanggapi kekesalanku dengan segurat senyuman yang manis. Ahh aku membenci hal itu. “Kau bukan saja kehilangan itu semua, nona. Kau juga kehilangan kesempatan untuk menghirup kebebasan di dunia ini. Kau tahu? Berapa orang yang akan menangisimu ketika kau memilih jalan ini? Apa kau sudah menghubungi orang tuamu, sahabat-sahabatmu, atau teman-temanmu? Kau tak pamit?”

“Dengarkan aku! Untuk apa aku harus meminta izin mereka, bodoh! Yang ada aku bakalan dicaci, dimarahi dan bakalan dicegah!”

“Itu tandanya mereka menyayangimu. Lalu jika kau tahu itu kenapa kau ingin melakukan hal ini?”

“Bukan urusanmu!!!!”

“Memang sih bukan urusanku, tapi cobalah untuk berpikir. Apa setelah kau mati nanti urusanmu di dunia ini bakalan berakhir?”

“Iya!”

“Lalu bagaimana urusanmu dengan Tuhanmu?”

“Tuhanku? Apa Dia peduli denganku? Dia tak membantuku di saat laki-laki busuk itu menyakitiku!!!”

“Ia membantumu. Kau saja tak merasakannya.”

“Kau sudah cukup mengoceh?!”

“Kau memintaku diam?”

“Jelas iya!”

“Lalu kenapa kau menanggapi setiap ocehanku jika kau ingin aku diam?”

“Kau…” Aku tak tahu harus berkata apa lagi. Tiba-tiba niatku untuk mengakhiri hidupku meluap sudah.

“Hidup itu indah nona. Sudahlah, tata kembali hatimu. Balaslah perlakuan laki-laki yang menyakitimu dengan kesuksesanmu. Semua masalah jika diakhiri dengan melompat seperti ini adalah cara pengecut dan tak terhormat. Setiap kehidupanmu, langkahmu dan caramu berpikir kelak dimintai pertanggungjawaban. Kau hanya menyewa apa yang ada di hidupmu sekarang. Tubuhmu itu bukan seluruhnya mutlak milikmu, tapi kau menyewanya dari Tuhan. Masa kau ingin menghancurkan apa yang bukan menjadi hakmu seutuhnya?” Tiba-tiba jubah lelaki di dekatku ini membesar, menutupi sekujur tubuhnya. Kemudian sepasang sayap panjang dan besar muncul dari punggungnya. “Jangan kau bebani aku gara-gara kebodohanmu dan otak ciutmu itu nona. Tugasku sudah banyak. Setiap waktu mencabik jiwa kerdil sepertimu hanya gara-gara galau!” Sayapnya mengembang, ia lalu melayang dan tersenyum padaku. tiba-tiba tangan kirinya keluar dan munculah sabit raksasa digenggaman tangannya. “Kau ingin tau siapa aku? Harusnya kau sudah tau siapa aku.”

Aku terpana memandangnya. Apa dia malaikat maut? Jika iya, pantas aku tak mampu berkata apa-apa lagi. Amarahku menghilang tak membekas. Jadi lelaki yang mengusikku sedari tadi. “Sudahlah nona. Galau itu tak perlu. Jika kau ingin mati. Matilah secara terhormat. “ Ia memasang topeng tengkoraknya dan kemudian melayang ke angkasa, meninggalkanku yang kini terduduk lemas di bibir gedung.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s